Monday, June 12, 2017

MAKALAH SENI PERAN



BAB I
PENDAHULUAN
  1. Latar Belakang
Indonesia adalah salah satu negara yang kaya dengan seni. Seni adalah salah satu unsur kebudayaan yang tumbuh dan berkembang sejajar dengan perkembangan manusia selaku penggubah dan penikmat seni. Kebudayaan adalah hasil pemikiran, karya dan segala aktivitas (bukan perbuatan), yang merefleksikan naluri secara murni. Seni memiliki nilai estetis (indah) yang disukai oleh manusia dan mengandung ide-ide yang dinyatakan dalam bentuk aktivitas atau rupa sebagai lambang. Dengan seni kita dapat memperoleh kenikmatan sebagai akibat dari refleksi perasaan terhadap stimulus yang kita terima. Kenikmatan seni bukanlah kenikmatan fisik lahiriah, melainkan kenikmatan batiniah yang muncul bila kita menangkap dan merasakan simbol-simbol estetika dari penggubah seni. Dalam hal ini seni memiliki nilai spiritual. Kedalaman dan kompleksitas seni menyebabkan para ahli membuat definisi seni untuk mempermudah pendekatan kita dalam memahami dan menilai seni. Konsep yang muncul bervariasi sesuai dengan latar belakang pemahaman, penghayatan, dan pandangan ahli tersebut terhadap seni.
Salah satu seni yang kita perhatikan di sini adalah seni teater. Pertunjukkan teater tidak hanya untuk hiburan masyarakat penonton. Di balik itu, ada amanat yang ingin disampaikan kepada masyarakat tentang sesuatu yang berhubungan dengan kehidupan sosial masyarakat. Kehidupan yang dimaksud menyangkut seluruh perilaku sosial yang berlaku pada kelompok masyarakat tertentu. Misalnya, kehidupan moral, agama, kehidupan ekonomi, dan kehidupan politik
Disini kami mengangkat tema seni teater tentang kehidupan seorang wanita yang mencoba melawan segala ketidakadilan yang dialaminya, mencoba melawan itu semua walau ia hanya seorang wanita . mungkin kisah ini sebagian besar pernah dialami oleh para TKW di Indonesia, apa yang mereka lakukan dan apa reaksi orang orang terhadap mereka . Tetapi sebelum itu mari kita kupas lebih dalam lagi tentang teater, demi mendukung seni teater INDONESIA.

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Pemeranan

Istilah pemeranan disebut juga dengan seni peran, atau seni akting. Seorang pemeran dalam melaksanakan pemeranannya dikenal dengan sebutan aktor, aktris, pemain, tokoh, dst. Aktor, aktris, pemain, tokoh adalah inti dalam seni peran dan seni teater pada umumnya. Oleh karenanya, tanpa seorang pemeran seni pertunjukan tak akan hadir dihadapan kita. Namun perlu diingat, dalam pemeranan tidak semua aktor, pemeran, tokoh tidak atau kurang berhasil dalam membawakan pemeranannya. Mengapa demikian? Hal ini sangat terkait dengan beberapa unsur seni peran yang menjadi persyaratan didalamnya, antara lain;
  1. Cerita atau naskah yang dibawakannya wajib mengandung konflik atau pertentangan antar tokoh yang satu dengan tokoh yang lainnnya. Dapat pula permengenai tokoh cerita dengan lingkungan, dengan dirinya sendiri (keyakinannya) dst.
  2. Adanya kerjasama dan kerja bersama baik antar pemain dan sutradara dalam membangun irama permainan seni peran, dengan beberapa unsur artistik pentas yang hadir melingkupi tokoh dalam suatu adegan, babak atau disebut dengan kepekaan ruang dalam membangun atmosfir pertunjukan.
  3. Menghindari terjadinya kesalahan pemilihan tokoh atau miss casting dalam pemeranan, sehingga terjadi over acting (akting yang berlebihan) atau under acting (akting di bawah standar, kurang ekspresif dari tuntutan peran yang dibawakan). Pemeran, aktor, aktris baik adalah manusia kreatif yang selalu berinsiatif untuk mendadani dan melengkapkan tubuhnya, mentalnya, sosialnya tanpa wajib menunggu perintah orang lain dan atau sutradara.
  4. Adanya keberanian untuk mencoba dan gagal (trial and error). Pada dasarnya suatu keberhasilan, kalian harus meyakini dari kegagalan. Itulah pentingnya suatu kegigihan dan kemauan yang keras perlu ditanamkan olehmu.
  5. Memiliki wawasan dan suka bergaul. Karena itu disyaratkan untuk gemar membaca, menonton pertunjukan dan wajib peka pada kejadian sekitar dan isu-isu yang aktual untuk melatih ingatan dan emosi pemeran sekaligus sebagai bahan apa yang akan dibicarakan secara tematik.
  6. Harus percaya diri, mempunyai kesadaran potensi atas kelebihan dan kekurangan diri sendiri. Tidak sedikit orang di sekitar kita memiliki; kecantikan, ketampanan, jelek, pendek, jangkung atau postur tubuh tidak ideal, tidak menarik dan menjadi pusat perhatian orang lain. Tetapi dengan ketampanan, kecantikan di dalam Sinetron Lorong atas rata-rata atau di bawah rata-rata dan Waktu. ditunjang dengan kemampuan lebih dari dirinya menjadi luar biasa dalam bidang pemeranan. Contohnya; Resa Rahardian, Dude Herlino, Olga Syahputra, Sule, Bopak, Adul, Daus Mini, Ucok Baba, Soimah, Omaswati, Rina Nose, Christine Hakim, Deddy Miswar, dst.
Dengan demikian, seorang pemeran bersifat langsung di atas panggung atau tidak langsung melalui media televisi atau film dituntut untuk membawakan perannya dengan ekspresif, totalitas tubuh sesuai dengan watak tokoh yang diembannya. Pemeran baik wajib mampu menjadi mediator pesan moral (cerita) dan estetis (keindahan pemeranan) melalui ekspresi totalitas tubuhnya, dengan segenap cipta, rasa, dan karsanya.
Untuk menuju atau minimalnya kalian mengetahui dan mengalami pembelajaran seni peran, perlu diingat bahwa para ahli teater atau teaterawan berpendapat bahwa seorang aktor, aktris, pemeran adalah seperti halnya tanah lempung atau tanah liat. Seorang aktor wajib siap dan mampu dibentuk dan dibuat jadi apa saja. Artinya, bahwa aktor atau seorang pemeran itu sebagai bahan baku yang mampu menjadi media utama dalam seni peran atau pemeranan dari cerita yang diekspresikan secara estetis melalui simbol atau lambang audio (suara, kata-kata), visual (tubuh atau ragawi) dan gerak (gerak-gerik dan perlakuan di atas pentas).
Pemeranan atau seni peran dalam seni teater melalui penyajiannya dapat dibedakan dalam dua jenis, yakni pemeranan di atas panggung pertunjukan bersifat langsung, sesaat dengan gaya dan unsur pemeranannya dapat dilakukan dengan teknik stilasi (penyederhanaan) dan distorsi (penglebihan). Pemeranan sinematografi atau film bersifat wajar, tidak langsung, diulang melalui media rekam dan proses editing.
Dalam perkembangannya pemeranan terutama dalam dunia sineas, sinematografi lebih dikenal dengan seni “acting“. Kata acting sendiri dalam bahasa Indonesia ditulis akting, dari turunan kata kerja “to act“ artinya berbuat, bertindak seolah-olah atau menjadi sesuatu. Sesuatu itu dapat berupa; orang (dengan identitas ketokohannya), atau benda dan mahluk hidup lain berasal dari kehidupan nyata lalu diangkat ke atas pentas dalam wujud seni peran atau akting dengan karakter atau watak tokoh yang diperankan. Oleh sebab itu pemeranan disebut juga dengan seni peran atau seni akting yakni seni dalam membawakan peran orang lain di luar dirinya dengan perwatakan bersifat; tepat takaran, logis (wajar), etis dan estetis.
Seorang pemeran wajib mampu membawakan pemeranannya secara prima dan mempesona di atas pentas. Sebagai rasa tanggungjawab yang dipikulnya, maka seorang pemeran atau aktor, aktris untuk senatiasa selalu mengasah kemampuan dirinya melalui pengolahan unsur penting pemeranannya, yakni: tubuh, suara, rasa atau penghayatan yang melingkupinya. Dengan demikian kepekaan dan mengolah kesadaran unsur pemeranan yang melingkupinya mampu menampilkan penokohan sesuai watak tokoh dengan takaran pemeranan yang mempesona dalam suatu pementasan. Artinya, dalam pemeranan akan dialami dan ditemukan persoalan takaran atau ukuran dalam menciptakan irama permainan apakah lebih mengarah pada “over acting“ atau akting yang berlebihan atau bersifat “under acting” atau akting dibawah ukuran atau takaran yang seharusnya, sehingga irama permainan menjadi monoton, tidak berkembang, menjemukan, membosankan lawan main dan penonton.
Dalam seni peran atau pemeranan terjadi kebebasan tafsir, orsinil, bersifat laku jujur atas peran atau penokohan yang diemban pemerannya. Tokoh atau peran yang sama dari satu naskah dengan pengarang yang sama, diperankan oleh seseorang akan terjadi kesan pemeranan atau akting yang berbeda. Contohnya, Film Nagabonar yang diperankan oleh Dedy Miswar akan berbeda kesan (ruh, greget) pemeranannya dengan tokoh Nagabonar yang diperankan Tora Sudiro. Karena jam terbang dan pengalaman dalam dunia seni peran yang berbeda dan itulah membuktikan bahwa dalam dunia seni peran bersifat kejujuran tanpa manipulasi. Penghargaan baik tidaknya atau memikat tidaknya pemeranan yang dibawakan oleh seseorang hanya dapat diberikan oleh penontonnya, bukan atas penilaian diri sendiri pemeran atau aktor. Jenis dan bentuk teater yang tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat pedesaan dan perkotaan di Indonesia, pengungkapannya dapat dibedakan menjadi teater tradisional (teater rakyat dan teater klasik) dan non tradisional (teater modern dan sinematografi/film). Berdasarkan jenis dan bentuk teater itu sangat mempengaruhi ciri atau identitas pembentuk seninya, termasuk di dalam hal pemeranan.
Dalam perkembangannya setelah masuknya teori atau keilmuan barat, yakni pengaruh dunia pendidikan seni teater di Indonesia. Maka dunia seni peranpun dapat dibedakan dengan berbagai gaya atau aliran yang berkembang: teater realis, non realis (surealis dan absurd). Seni akting dari bersifat idiom-idiom tradisi berkembang pada seni teater non tradisional (teater barat, teater eksperimen, teater ekstrim dst. sebagai pengaruh dari budaya postmodernisme. Sehingga lahirlah beberapa istilah bentuk pertunjukan, seperti; teater tubuh, teater gerak, teater jeprut, happing art, dan teater jalanan.
  1. Unsur-unsur Pemeranan dalam Seni Teater
Pentingnya unsur-unsur pemeranan dimaksud adalah untuk memberikan kesempurnaan dan totalitas ekspresi watak tokoh dan pesan moral yang diungkapkan seorang pemeran dalam suatu hubungan. Hubungan pemeranan yang dimaksud bahwa seorang pemeran tidak diam saja, duduk tertidur, berdiri kaku, melangkah seenaknya dan berbuat sekehendak hati tanpa dorongan dan motivasi yang jelas dalam menciptakan irama permainan secara bersama dan bekerjasama dengan kedatangan tokoh dan atau unsur artistik lainnya. Perlu kalian ingat kembali, inti dari seni teater adanya tokoh, pemeran, pelaku dengan media utamanya manusia. Inti dari cerita yang disampaikan tokoh adalah konflik atau pertentangan yang dijalankan oleh susunan cerita dalam hubungan sebab dan akibat (plot cerita) dengan mengusung tema cerita, yaitu pertentangan; tokoh utama dengan tokoh yang lainnya (heroic), tokoh utama dengan dirinya sendiri (psikologi), pertentangan dengan lingkungannya (social) dan pertentangan dengan keyakinannnya (religi). Tema-tema cerita itu menjadi unsur penting dalam penulisan naskah lakon atau drama atau seni teater. Terutama pada bentuk pertunjukan teater non tradisional.
Kata lakon sama halnya dengan istilah ‘ngalalakon-boga lalakon’ (dalam, Bahasa Sunda), atau ‘ngelelakon’ (dalam, Bahasa Jawa) artinya melakukan, melakoni cerita yang dilakukan seorang tokoh, biasanya tokoh atau pemeran utama dengan kata-kata (verbal) atau tanpa berkata-kata (non verbal) dalam suatu peran yang dibawakan.
1.Lakon
Kedudukan lakon, cerita atau naskah adalah unsur penting dalam seni teater sebagai nyawa, nafas atau ruh dalam menjalin hubungan cerita (struktur cerita) melalui tokoh atau peran yang dibawakan seorang pemeran. Lakon, cerita atau naskah adalah hasil karya pemeran, seniman dan atau sastrawan yang diwujudkan atau diangkat ke atas pentas seni teater, baik pertunjukan langsung atau tidak langsung (seni rekam), yakni; Sinematografi, TV Play, Sandiwara Radio dan Film. Karena tidak semua kreator teater (drama) mampu menulis naskah atau lakon atau skenografi sendiri, oleh sebab itu, naskah atau lakon yang ditulis orang lain (pengarang) di mata seniman teater adalah bahan baku atau sumber ide, gagasan dan pesan moral yang mengilhami untuk berkreativitas melalui karya teater.



2.Unsur Penokohan dan Perwatakan
Penokohan atau kedudukan Tokoh yang disajikan oleh seorang dan atau beberapa pemeran adalah unsur penting dalam pemeranan berasal dari lakon, cerita, naskah yang ditulis atau tidak ditulis oleh seorang pengarang.
Penokohan didalam seni teater dapat dibagi dalam beberapa kedudukan tokoh atau peran, antara lain: Protagonis, Antagoni, Deutragonis, Foil, Tetragoni, Confident, Raisonneur dan Utility.
  1. Protagonis adalah tokoh utama, pelaku utama atau pemeran utama (boga lalakon) disebut sebagai tokoh putih. Kedudukan tokoh utama adalah memainkan cerita hingga cerita mempunyai peristiwa dramatis (konflik pertentangan)
  2. Antagonis adalah lawan tokoh utama, penghambat pelaku utama disebut sebagai tokoh hitam. Kedudukan tokoh berlawanan adalah yang mengahalangi, menghambat itikad atau maksud tokoh utama dalam menjalankan tugasnya atau mencapai tujuannya. Tokoh Antagonis dan Protagonis biasanya mempunyai kekuatan yang sama, artinya sebanding menurut kacamata kelogisan cerita di dalam membangun keutuhan cerita.
  3. Deutragonis adalah tokoh yang berpihak kepada tokoh utama. Biasanya tokoh ini membantu tokoh utama dalam menjalankan itikadnya. Kadangkala, tokoh ini menjadi tempat pengaduan atau memberikan nasihat kepada tokoh utama.
  4. Foil adalah tokoh yang berpihak kepada lawan tokoh utama. Biasanya tokoh ini membantu tokoh Antagonis dalam menghambat itikad tokoh utama. Kadangkala, tokoh ini menjadi tempat pengaduan atau memberikan nasihat memperburuk kondisi kepada tokoh Antagonis.
  5. Tetragonis adalah tokoh yang tidak memihak kepada kepada salah satu tokoh lain, lebih bersifat netral. Tokoh ini memberi masukan-masukan positif kedua belah pihak untuk mencari jalan yang terbaik.
  6. Confident adalah tokoh yang menjadi tempat pengutaraan tokoh utama. Pendapat-pendapat tokoh utama itu pada biasanya tidak boleh diketahui oleh tokoh-tokoh lain selain tokoh itu dan penonton.
  7. Raisonneur, adalah tokoh yang menjadi corong bicara pengarang kepada penonton.
  8. Utilitty, adalah tokoh pembantu baik dari kelompok hitam atau putih. Tokoh ini dalam dunia pewayangan disebut goro-goro (punakawan). Kedudukan tokoh Utilitty, kadangkala ditempatkan sebagai penghibur, penggembira atau hanya sebatas pelengkap saja, Artinya, kedatangan tokoh ini tidak terlalu penting. Ada atau tidaknya tokoh ini, tak akan mempengaruhi keutuhan lakon secara tematik. Kalau pun dihadirkan, lakon akan menjadi panjang atau menambah kejelasan adegan peristiwa yang dibangun.
Perwatakan atau watak tokoh atau karakteristik yang dimiliki tokoh atau pemeran di dalam lakon, dihadirkan pengarang adalah ciri-ciri, tanda-tanda, identitas secara khusus bersifat pencitraan sebagai simbol yang dihadirkan tokoh, berupa; status sosial, fisik, psikis, intelektual dan religi. Status sosial sebagai ciri dari perwatakan adalah menerangkan kedudukan atau jabatan yang diemban tokoh dalam hidup bermasyarakat pada lingkup lakon, antara lain; orang kaya, orang miskin, rakyat biasa atau jelata, penggangguran, gelandangan, tukang becak, kusir, guru, mantri, kepala desa, camat, bupati, gubernur, direktur atau presiden.
Status sosial sebagai ciri dari perwatakan adalah menerangkan kedudukan atau jabatan yang diemban tokoh dalam hidup bermasyarakat pada lingkup lakon, antara lain; orang kaya, orang miskin, rakyat biasa atau jelata, pelajar, mahasiswa, penggangguran, gelandangan, tukang becak, kusir, guru, ulama, Ustad, Ustadzah, mantri, kepala desa, camat, bupati, gubernur, direktur atau presiden.
Fisik sebagai ciri dari perwatakan, menerangkan ciri-ciri khusus mengenai jenis kelamin (laki perempuan atau waria), kelengkapan pancaindra atau keadaan kondisi tubuh (cantik-jelek, tinggi-pendek, kurus-buncit, kekar-lembek, rambut hitam atau putih, buta, pincang, lengan patah, berpenyakit atau sehat. Psikis sebagai ciri dari perwatakan menerangkan ciri-ciri khusus tentang hal kejiwaan yang dialami tokoh, seperti; sakit ingatan atau normal, depresi, traumatic, penyimpangan seksual, mudah lupa, pemarah, pemurah, penyantun, pedit, pelit, dan dermawan. Intektual sebagai ciri dari perwatakan menerangkan ciri-ciri khusus tentang hal sosok tokoh dalam bersikap dan berbuat, terutama dalam mengambil sebuah keputusan atau menjalankan tanggungjawab. Misalnya, kecerdasan (pandai-bodoh, cepat tanggap-masa bodoh, tegas-kaku, lambat-cepat berpikir), kharismatik (gambaran sikap sesuai dengan kedudukan jabatan), tanggungjawab (berani berbuat berani menanggung resiko, asalkan dalam koridor yang benar). Unsur pemeranan selanjutnya adalah tubuh pemeran sebagai media ungkap wujud fisik dengan kelenturan dan ekspresi tubuhnya.
3.Unsur Tubuh
Tubuh dengan seperangkat anggota badan dan ekspresi wajah adalah unsur penting yang perlu dilakukan pengolahan atau pelatihan agar tubuh kalian memiliki; stamina yang kuat, kelenturan tubuh dan daya refleks atau kepekaan tubuh. Untuk mendapat tujuan dimaksud secara maksimal, bahwa seorang pemeran wajib rajin dan disiplin melaksanakan olah tubuh sebagai materi penting yang akan dibahas melalui teknik pemeranan. Disamping mempunyai kemampuan tubuh yang memadai untuk seorang pemeran, jangan lupa kalian harus sadar akan potensi kalian dalam hal memfungsikan unsur suara atau vokal.
4.Unsur Suara
Suara atau bunyi yang dikeluarkan indra mulut dan hidung melalui rongga dan pita suara adalah salah satu unsur pemeranan yang berfungsi untuk penyampaian pesan pemeranan melalui bahasa verbal atau pengucapan kata-kata. Unsur suara sebagai sarana dalam pemeranan seni teater agar berfungsi dengan baik, dan mempunyai manfaat ganda dalam menunjang seni peran perlu dilakukan pengolahan berupa pelatihan pada unsur-unsur anggota tubuh yang terkait dengan pernapasan dan pengucapan melalui teknik pemeranan.
5.Unsur Penghayatan
Penghayatan adalah penjiwaan, mengisi suasana perasaan hati, kedalaman sukma yang digali dan dilakukan seorang pemeran saat membawakan pemeranannya di atas pentas. Unsur penghayatan dalam seni peran perlu memperoleh perhatian khusus, sebab setiap pemeran dalam membawakan pemeranannya akan terasa berbeda. Sekalipun berasal penokohan yang sama dari naskah yang sama. Hal ini, sangat tergantung pada sejauhmana upaya pengalaman pemeranan dalam mengasah kepekaan sukmanya sehingga memunculkan kesadaran rasa simpati dan empati diri sendiri pada orang lain dan kepekaan menanggapi peristiwa yang terjadi dalam kehidupan. Latihan untuk mendapat kepekaan rasa atau sukma atau pengaturan emosi untuk seorang pemeran dapat dilakukan melalui teknik olah rasa yang akan dibahas pada sub bab pemeranan selanjutnya.
6.Unsur Ruang
Ruang dalam pemeranan adalah unsur yang menunjukan tentang; ruang yang diciptakan pemeran dalam bentuk mengolah posisi tubuh dengan jarak rentangan tangan dengan anggota badannya; lebar (gerak besar), sedang (gerak wajar), kecil (gerak menciut). Contohnya, gerak besar, biasanya pemeran mendapat suasana; angkuh, sombong, menguasai, agung, kebahagiaan, perpedaan status, dan atau marah dst. Adapun, ruang wajar dan bersahaja biasanya dilakukan seorang pemeran pada suasana; akrab, bersahaja, status sama, damai, tenang dan nyaman. Ruang pemeranan yang dibangun seorang pemeran dengan gerak atau respon kecil, biasanya dilakukan dalam suasana: tertekan, sedih, takut, mengabdi, dan budak.


7.Unsur Kostum
Pengertian kostum dalam seni peran adalah semua perlengkapan yang dikenakan, menempel, melekat, mendandani untuk memperindah tubuh pemeran pada wujud lahiriah dalam aksi pemeranan di atas pentas. Kostum meliputi unsur ; rias, busana, dan asesori sebagai penguat, memperjelas watak tokoh, baik secara fisikal, psikis, moral atau status sosial. Contohnya dalam berpakaian, seperti; Polisi, Tentara, Hansip, Satpam, Guru, Kepala Desa, Pejabat, Rakyat, Pengemis, Wadam, dan Anak Sekolah.
8.Unsur Property
Pemahaman Property dalam pemeranan adalah semua peralatan yang digunakan pemeran, baik yang dikenakan atau yang tidak melekat ditubuh, tetapi dapat diolah dengan menggunakan tangan (handprop) dan berfungsi untuk penguat watak atau karakter seorang pemeran, seperti : tas, topi, cangklong, tongkat, pentungan, kipas, panah dan busur, dan golok.
9.Unsur Musikal
Unsur musikal atau unsur pengisi, penguat, pembangun suasana laku pemeranan di atas pentas, meliputi; irama suasana hati atau sukma dalam membangun irama permainan dengan lawan main, irama vocal, suara pengucapan (Opera, Gending Karesmen, dan Wayang Wong) sang pemain, atau aktor, dan irama musik sebagai penguat karakter tokoh (Cepot, Bodor, Semar, dan Raja.) berupa; gending, musik, suara atau bunyi dan efek audio, baik melalui iringan musik langsung (live) atau musik rekaman (playback), contohnya; Musik Kabaret, dan Musik Operet.
  1. Teknik Dasar Pemeranan dalam Teater
Teknik adalah cara, metode dan strategi dalam melaksanakan atau menyelesaikan sesuatu kegiatan dengan baik dan benar atau aman. Teknik pemeranan dapat kalian pahami sebagai suatu cara, metode atau cara untuk mengoptimalkan keterampilan potensi pikir, perasaan, vokal dan tubuhnya dalam membawakan peran atau tokoh dengan totalitas dan penuh kesadaran, sehingga diperoleh manfaat dalam meningkatkan akting atau seni peran dari suatu tokoh atau peran yang diekspresikan.
Pembelajaran teknik pemeraan dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan yang dilakukan Boleslavsky melalui aplikasinya dilakukan melalui tahapan-tahapan teknik pemeranan seperti berikut ini:
Hal ini dilakukan agar kalian memiliki ketahanan tubuh, suara yang memadai dan kepekaan rasa dalam mencapai tujuan pembelajaran berpengalaman seni peran atau akting.

1.Olah Tubuh
Olah tubuh adalah pembelajaran praktik melalui pengolahan atau pelatihan agar tubuh kalian memiliki; stamina yang kuat, kelenturan tubuh dan daya refleks tubuh. Dalam hal ini jelas, kalian harus memakai pakaian latihan (olah raga).
  1. Stamina / Kekuatan Tubuh
kekuatan tubuh adalah pelatihan pada tubuh agar kalian memiliki ketahanan fisik dan pernapasan yang sehat.
  1. Streching/Peregangan
Peregangan adalah pengolahan atau latihan pada bagian otot-otot tubuh agar lentur dan mempunyai daya gerak refleks.
  1. Keseimbangan tubuh
Pelatihan keseimbangan tubuh membekali kalian agar dilatih kemampuan otak dalam menguasai tubuhnya.
2.Olah Suara
Olah suara adalah praktik pengolahan atau pelatihan elemen-elemen yang berhubungan dengan suara melalui teknik pernapasan dan pengucapan agar kalian memiliki; artikulasi yang jelas, intonasi suara, dinamika suara dan kekuatan suara.
  1. Artikulasi
Artikulasi dapat diartikan kejelasan dalam pengucapan kata-kata agar apa yang dikatakan menjadi jelas dengan apa yang diterima pendengarnya.
  1. Intonasi
Intonasi suara adalah irama suara dengan penekanan mengucapkan kata- kata sehingga dihasilkan pengucapannya yang tidak monoton atau kesan datar.
  1. Dinamika
Dinamika suara adalah tempo pengucapan suara; cepat-lambat-sedang (wajar) dari sebuah kalimat.
  1. Power / Kekuatan
Kekuatan suara adalah keras lemahnya suara yang dihasilkan dari pengucapan suatu kata atau kalimat.
Olah rasa adalah suatu proses latihan yang menempatkan perasaan sebagai objek utama dari pengolahan / latihan. Latihan dilakukan untuk menggali “Potensi Dalam” agar dapat diatur dan dikendalikan sesuai dengan kebutuhan emosi peran.
3.Olah Rasa / Sukma
Fungsi latihan Olah Rasa disisi lain akan mampu membangun kejujuran rohani dan pembebasan rohani dari hal-hal yang mengikat dan membatasi. Selanjutnya pembebesan itu diharapkan membantu sikap perasaan untuk melahirkan ide-ide/ilham dan kreativitas pemeranan. Adapun materi latihan yang kalian harus lakukan antara lain:
a. Teknik Konsentrasi Konsentrasi adalah “Gerbang“ yang sangat menentukan kelangsungan mengatur dan mengendalikan fenomena psikologis seorang aktor dalam menguasai peran. Pada bagian ini (konsentrasi) seorang aktor akan berupaya meng-Alienansi (mengasingkan) dirinya dari kehidupan nyata yang dijalaninya sehari-hari untuk selanjutnya ia akan menimbulkan segala cipta, rasa dan karsanya pada satu pusat perhatian.
Pada dasarnya ajaran konsentrasi adalah ajaran mengenai penguasaan/ pengendalian diri atau pemusatan pikiran serta rohani kita pada apa yang akan dan sedang kita lakukan dalam waktu yang kita perlukan. Unsur -unsur penting fenomena psikologis dalam sentuhan konsentrasi antara lain: Pembebesan dari pengendalian diri, kejujuran dan kepasrahan hati, kepekaan rasa, kesiapan dan kekuatan mental, pemusatan pikiran dan perhatian. Latihan dapat kalian lakukan dengan cara:
  • Latihan mengosongkan pikiran,
  • Pemusatan pikiran pada suatu objek, misalnya; lilin yang menyala, bunga, kursi, warna, bunyi, suara, kucing, dan harimau.
  • Pemusatan pikiran pada peristiwa tertentu secara khayal.
b. Pengindraan
Kemampuan peralatan tubuh dalam merespon atau bereaksi pada berbagai hal terutama yang berhubungan dengan sifat-sifat, yaitu :
  • Mata, berfungsi untuk menangkap dan bereaksi pada objek-objek penglihatan (visual).
  • Hidung, berfungsi untuk menangkap dan bereaksi pada objek-objek aroma (penciuman).
  • Telinga, berfungsi untuk menangkap dan bereaksi pada objek-objek suara / bunyi (pendengaran).
  • Lidah, berfunsi untuk menangkap dan bereaksi pada rasa (Taste): manis, asin, pahit, masam dst. (pengecapan).
  • Tubuh, berfungsi untuk menangkap dan bereaksi pada sentuhan/ rabaan.
Seluruh kemampuan Panca Indra dalam hubungan olah rasa senantiasa ditujukan untuk membangun kepekaan rasa yang nantinya hadir sebagai rangsangan emosi dalam teknik pemeranan.
c. Kepekaan Sukma / Rasa
Tahapan pembelajaran/ latihan bagian ini adalah tujuan utama dari latihan Olah Rasa, dimana sejak diawali tahapan : Konsentrasi, Meditasi dan Pengindraan maka diharapkan kalian memiliki suatu kepekaan Sukma / Rasa atau penghayatan batin yang mampu menghadirkan keterampilan mengatur/ mengendalikan permainan emosi kapan saja bila diperlukan. Rasa/sukma adalah kekuatan dalam dari pada aktor yang lalu ditampilkan kepada penonton melalui media-media : Mime / Mimik (Air Muka), gesture (Gerak-gerik Tubuh), Emosi Suara (Dialog), Laku Dramatik dan Karakter atau perwatakan.
d. Imajinasi
Imajinasi adalah kemampuan dalam menciptakan daya khayal sebagai hasil kepekaan ingatan emosi dari kehidupan sehari-hari, perumpamaan (metaforik) pada binatang, tumbuhan, unsur alam atau hasil sebuah perenungan mendalam yang mampu menghadirkan khayalan positif.
Latihan dapat kalian lakukan dengan bimbingan guru.
  • Berimajinasi melaksanakan kegiatan keseharian, seperti : orang berjumpa (jabat tangan–memeluk), orang berpisah jauh (melambaikan tangan), dan orang berpapasan (senyum – membungkuknya badan).
  • Berimajinasi dengan berbuat seolah-olah menirukan gerakan atau jalan manusia, binatang: orang lumpuh, orang pincang, orang tua, anak muda, bayi, harimau, kucing, kanguru, bangau, dan kera.
  • Berimajinasi dengan andai aku menjadi (metaforik): angin, air, suara, benda tertentu, matahari, bulan, bintang, pohon, dan burung.
4.Ruang
Pengertian ruang dalam seni teater adalah tempat bermain peran (acting) dengan lingkup peralatan dan perlengkapan dekorasi yang dihadirkan di atas pentas. Tempat bermain peran dapat dilakukan di lapang, di dalam kelas atau khusus diciptakan di atas panggung pertunjukan. Ruangan ini oleh pemeran wajib diisi dan dihidupkan menjadi satu kesatuan yang utuh, sehingga mendukung peran yang dibawakan. Teknik di dalam mengisi dan menghidupkan ruang untuk seorang pemeran adalah kemampuan merespons kepekaan; blocking, moving, businees, dan leveling pada ruang dan lawan main.
a. Blocking
Blocking berhubungan dengan latihan-latihan untuk mendukung elemen artistik, dimana para pemeran wajib memiliki kepekaan ruang. Artinya para calon aktor wajib dilatih bagaimana memosisikan dirinya pada wilayah pentas, terutama apabila pentas di isi lebih dari 1 (satu) orang pemeran.
b.Movement
Kanan Depan Pentas Depan Tengah Pentas Kiri Depan Pentas Kiri Tengah Pentas Pusat Pentas Kanan Tengah Pentas Kanan Belakang Pentas Belakang Tengah Pentas Kiri Belakang Pentas
Movement artinya bergerak atau berpindah tempat. Kata “Moving” dikenal juga dengan movement yaitu pergerakan atau pindah tempat yang dilakukan pemain di atas pentas.
Pergerakan atau perpindahan tempat untuk seorang pemeran/pemain dapat dilakukan ke depan, ke samping, ke belakang, mendekat atau menjauh asalkan perpindahan yang dilakukan pemain tidak menutup atau menghalangi pemain lain.
c. Businees
Businees atau bisnis adalah usaha yang dilakukan pemeran dalam membunuh dari rasa membosankan atau kejenuhan atau kebingungan atau kekakuan dalam berbuat sesuatu dalam mengisi luang atau kekosongan waktu yang ada. d. Leveling
Istilah leveling atau dari asal kata yakni tingkatan atau undak-undak. Maka dalam konteks seni peran (Teater) pengaturan tinggi rendah pemain dalam ruang pentas. Pengaturan tinggi rendah pemain baik personal atau grouping selalu dilakukan bahwa pemain yang berada di belakang pemain lain hendaknya mempunyai kesadaran wajib lebih tinggi dan pemain yang berada Gambar 7.22 Leveling di depannya memberikan level lebih rendah Dalam Adegan Pemeranan agar keduanya tampak menguntungkan terlihat oleh penonton.

  1. Analisis Peran dalam Kreativitas Pemeranan Teater
Kreativitas pemeranan adalah suatu metode atau cara untuk mengoptimalkan kemampuan pengetahuan, keterampilan dan sikap dalam pembelajaran pemeran pada penguasaan dan pengolahan; tubuh, suara, sukma dan pikir yang dimiliki murid dengan totalitas, penuh kesadaran, dan tanggungjawab atas peran yang diembannya. Sehingga diperoleh manfaat ganda, berupa: kebugaran, kecerdasan dan terjadi peningkatan kualitas dalam seni peran dari suatu watak tokoh yang diperankan.
Analisis Peran
Analisis artinya mengurai, memecahkan atau membedah sesuatu hal berdasar kaidah ilmiah dengan memfungsinya daya pikir kamu. Analisis peran dalam seni teater adalah kemampuan kalian untuk mengurai dan menghubungkan tokoh yang ada didalam naskah yang kalian baca, yang akan teman kalian perankan dengan tokoh yang kalian akan bawakan dalam bentuk seni peran. Kegiatan analisis peran atau penokohan dari sumber naskah yang kalian baca dituangkan dalam bentuk draf atau format analisis peran.
Keuntungan seorang pemeran dengan membuat analisis tokoh adalah untuk memudahkan koordinasi kerja dalam melaksanakan latihan pemeranan secara bersama dan bekerjasama dalam hal membangun kesamaan visi dan misi pemeranan yang akan ditampilkan oleh pemeran tokoh lain dalam kelompok kamu. Adapun tujuan akhirnya dengan melaksanakan analisis peran adalah terciptanya; keutuhan, keterpaduan dan keharmonisan pemeranan sesuai dengan watak tokoh dari naskah yang kalian dan kelompok kalian akan tampilkan. Langkah selanjutnya dalam kreativitas pemeranan adalah melaksanakan latihan bersifat individu dan kelompok, hingga melaksanakan presentasi pemeranan lisan dan tulisan secara kelompok.
  1. Sebelum berlatih pemeranan dibiasakan melaksanakan olah tubuh atau minimal pemanasan, peregangan dan melatih kepekaan terhadap: tubuh, wajah, mulut, vocal, dan sukma yang kalian akan gunakan dalam mengeklorasi watak tokoh dalam pemeranan.
  2. Bacalah naskah dibawah ini sampai akhir atau tuntas secara sendiri atau kelompok (langkah reading) !
  3. Lakukan pemilihan dan penentuan peran atau tokoh (casting) yang cocok dengan keinginanmu atau berdasar pembagian kelompok yang dibentuk!
  4. Lakukan analisis tokoh dan perwatakannya sesuai dengan peran yang akan kalian bawakan berdasar petunjuk naskah (pengarang) atau tanda-tanda yang diungkapkan dari kata-kata melalui dialog tokoh didalam naskah!
  5. Lakukan observasi tokoh dan perwatakan sesuai dengan peran yang akan kalian dan teman kalian bawakan berdasar pengamatan kalian terhadap orang-orang di lingkungan sekitar dengan keunikan, kekhasan dan mempunyai daya pesona atau greget.
  6. Hapalkan dialog (percakapan antar tokoh) dan ekplorasi (menggali) gerak tubuh, suara, dan penghayatan peran berdasar tokoh yang kalian akan bawakan berdasar naskah!
  7. Setelah hapal naskah dan mengetahui tanda akhir dialog lawan main pemeranan (kyu), lakukan olah atau eksplorasi ruang berupa: blocking, moving, business, leveling, waktu dan suasana dalam membangun irama permainan kelompok.
  8. Setelah lepas naskah, ekplorasi melalui teknik pemeranan dan eksplorasi pada unsur penunjang pemeranan (rias, busana dan properti). Selanjutnya kegiatan kalian adalah menyeleksi, dan menyusun ekspreasi pemeranan sesuai watak tokoh yang dibawakan dalam latihan kelompok!
  9. Menyongsong minggu terakhir penampilan, kalian dan kelompok kalian harus melaksanakan kegiatan membentuk: gladi kotor dan gladi bersih di tempat, di kelas, atau di panggung yang akan kalian gunakan untuk menampilkan kreativitas pemeranan dalam seni teater secara kelompok.
  10. Akhirnya kelompok kalian mempresentasikan atau konsep dan memaknai pembelajaran pemeranan sebagai hasil analisis watak tokoh dalam bentuk tulisan dan bermain seni peran dengan watak tokoh yang kalian bawakan secara individu dan kelompok sebagai hasil dalam berkreativitas seni peran.
Pada prinsipnya bahwa kreativitas dalam pemeranan adalah berupa prosedur atau tahapan dalam proses implementasi pemeranan sesuai watak tokoh dengan naskah yang kalian baca! Untuk mendapat hasil pemeranan yang maksimal kalian harus melaksanakan tahapan seperti berikut ini:
  1. Memilih dan menentukan naskah,
  2. Membaca naskah (Reading),
  3. Pembagian peran/tokoh (Casting),
  4. Menganalisis peran/tokoh,
  5. Menghapal naskah,
  6. Mengamati watak tokoh dari orang-orang disekitarmu,
  7. Mengeksplorasi pemeranan dengan dialog dan teknik pemeranan melalui latihan individu dan kelompok,
  8. Menyeleksi watak tokoh pemeranan,
  9. Menyusun watak tokoh pemeranan,
  10. Menggabungkan watak tokoh dengan aspek pemeranan dalam latihan kelompok,
  11. Membentuk pemeranan (gladi kotor dan gladi bersih) sebagai hasil latihan kelompok, dengan lisan (praktik
  12. Menampilkan pemeranan kelompok pemeranan) dan tulisan konsep pemeranan), dan
  13. Memaknai Pembelajaran Pemeranan.

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Teater adalah salah satu bentuk kegiatan manusia yang secara sadar menggunakan tubuhnya sebagai unsur utama untuk menyatakan dirinya yang diwujudkan dalam suatu karya (seni pertunjukan) yang ditunjang dengan unsur gerak, suara, bunyi dan rupa yang dijalin dalam cerita pergulatan tentang kehidupan manusia. Proses terjadinya atau munculnya teater tradisional di Indonesia sangat bervariasi dari satu daerah dengan daerah lainnya. Hal ini disebabkan oleh unsur-unsur pembentuk teater tradisional itu berbedabeda, tergantung kondisi dan sikap budaya masyarakat, sumber dan tata-cara di mana teater     tradisional lahir. Tetaer juga dikenal dengan seni yang kolektif di mana dalam sebuah tetaer tidak terlepas dari yang namanya sutradara sebagai pengkordinasi pementasan. Sehingga menjadi seorang sutradara harus menguasai apa-apa yang harus di lakasanakan karena baik/tidaknya pementasan tergantung dari seorang sutradaranya. Sehingga dalam seni teater juga memiliki peran yang sangat penting dalam lingkup sosisal. Ini sudah jelas karena yang namanya seni pertunjukan pasti dipertunjukan di depan orang banyak dalam hal ini salah satu contohnya adalah masyarakat. Seni teater bisa dijadikan media penyampaian segala bentuk rasa atau argumen yang berkaitan dengan kehidupan sosial.
Makalah ini merupakan bagian dari media pembelajaran, maka dengan itu kepada semua pihak bisa menggali ilmunya (khususnya ilmu tentan seni teater) dengan mendalami isi makalah ini. Khususnya kepada kaum muda agar seni teater tidak hilang begitu saja tetapi bisa diwariskan kepada segenap penerus bangsa sehingga negara Indonesia bisa disebut sebagai salah satu negara yang hebat dalam dunia seni.

DAFTAR PUSTAKA

0 comments:

Post a Comment